Senandung Hikmah

REVITALISASI PASAR CINDE, MEMBANGUN TANPA MERUSAK CAGAR BUDAYA

REVITALISASI PASAR CINDE, MEMBANGUN TANPA MERUSAK CAGAR BUDAYA

Palembang –

Rencana Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk merevitalisasi Pasar Cinde Palembang dengan mengunakan sistem kerja sama bangun guna serah atau build operate transfer (BOT), dapat dipastikan berjalan lancar.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan RI, Hilmar Farid bersama timnya memastikan akan siap mendukung tim cagar budaya Provinsi Sumsel melakukan pengkajian pasar pertama di Indonesia ini.

Selain melakukan peninjauan langsung Pasar Cinde, rombongan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan RI ini langsung menggelar audensi bersama Gubernur Sumsel, H. Alex Noerdin untuk membahas Penyelesaian dan Solusi Pasar Cinde di Griya Agung Palembang. Senin, (15/08).

Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengatakan, langkah yang diambil Pemerintah Provinsi Sumsel terkait BOT Pasar Cinde ini sudah sangat tepat, selain karena Sumsel akan menjadi tuan Rumah Asian Games 2018, juga karena sudah waktunya Pasar Cinde ini diambil tindakan sebelum roboh dengan sendirinya karena kondisinya sudah tidak layak.

Menurut Alex, pembangunan Pasar Cinde yang lebih modern, bersih, rapi dan layak dilakukan dengan tidak meninggalkan budaya, menjadikan pasar cinde modern, menampung para pedagang lama, dan memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar.

“Semua prosedur BOT itu diikuti dan tidak mudah mencari pihak yang mau mengembangkan ini, jadi tekat kita satu, semua ini cepat selesai dan kita tidak melanggar aturan”, terang Alex.

Terkait beberapa pihak yang menolak rencanan ini tercatat sebanyak 21 komunitas, asosiasi, organisasi, dan individu mengusung petisi ‘Save Cinde’, dinilai hanya sebagian kelompok yang tidak mengerti dan malah ikut-ikutan seolah-olah Pemerintah Sumsel seperti perompak.

“Saya ini orang Sumsel asli, lahir di Palembang, sekolah di Palembang dan bekerja di Palembang, jadi orang pertama yang akan menjaga warisan budaya di sumsel ini adalah saya sendiri sebagai Gubernur”, tegas Alex.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, dari perkembangan yang diikuti, pihaknya melihat pasar cinde ini tidak bisa dibiarkan begitu saja melainkan harus diadakan perubahan atau diambil tindakan.

Selaku Dirjen, kata Hilmar Farid, dirinya sangat mengapresiasi langkah yang sudah di ambil Pemerintah Provinsi Sumsel dengan membentuk tim kajian langsung untuk menuntaskan permasalahan ini.

“Kita siap mendukung tim cagar budaya yang sudah dibentuk oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, karena yang terpenting adalah hasil kajian, dan apapun hasil kajian harus kita terima bersama”, ujarnya.

Lanjut Hilmar Farid menjelaskan, dari hasil kajian yang dilakukan diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan untuk membangun tanpa merusak, serta secara umum bukan hanya penetapan cagar budaya atau tidak melainkan bagaimana melestarikan cagar budaya ini agar lebih baik dan layak.

Menurutnya, tujuan kedatangannya di Sumsel ini untuk berkomunikasi langsung dengan Pemerintah Sumsel sehingga mengetahui langkah-langkah yang di tempuh terkait revitalisasi Pasar cinde.

“Sebelum bertemu dengan bapak Gubernur, kita sudah melihat langsung kondisi pasar cinde dan memang sudah tidak layak dan perlu diambil tindakan”, tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel Irene Camelyn, dalam kesempatan ini menyampaikan kronologis BOT Pasar cinde dan tuntutan komunitas Save Cinde yang intinya nilai sejarah dari pasar cinde itu sendiri.

“Sejak satu bulan lalu sudah di bentuk tim cagar budaya terdiri dari 9 orang dan melibatkan beberapa arsitek Indonesia, permasalahan Pasar Cinde sendiri meliputi lokasi yang berada di pusat kota, kumuh, kondisi lantai sudah jauh di bawah permukaan jalan, rawan banjir dan kemacetan”, pungkasnya.(ADV. Humas Pemprov)

Online Paper Updated at: 10.36.00
Get Free Updates:
*Please click on the confirmation link sent in your Spam folder of Email*

Be the first to reply!

Poskan Komentar

 
back to top