Senandung Hikmah

ALEX NOERDIN YAKIN SPIRIT PRASASTI TALANG TUWO TERWUJUD



Palembang –

Upaya restorasi lahan gambut di Sumatera Selatan (Sumsel) yang mengalami kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan selama ini, disambut pemerintah Sumsel dengan sungguh-sungguh. Selain membentuk Tim Restorasi Gambut (TRG) yang pertama dari delapan provinsi di Indonesia yang menjadi target restorasi gambut, juga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk mempercepat proses restorasi gambut yang bukan hanya mengembalikan kondisi lahan gambut menjadi lebih baik, juga memakmurkan dan mesenjahterakan, serta menjaga cagar budaya.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin yakin cita-cita tersebut akan terwujud,”Sebab spirit Prasasti Talang Tuwo yang menjadi dasar pembangunan di Sumsel yang berwawasan lingkungan untuk kesejahteraan semua makhluk hidup,”ujarnya.

Restorasi gambut di Sumsel pada tahap awal, yakni merestorasi 30 persen dari lahan gambut terbakar, diprioritaskan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), juga didukung sejumlah lembaga. Mereka akan berkoordinasi dengan TRG Sumsel yang dipimpin Dr. Najib Asmani.

ZSL (Konsorsium UKCCU Inggeris dan NICFI Norway) akan melakukan restorasi lansekap di Dangku-Taman Nasional Sembilang. Yayasan Belantara bekerjasama dengan APP-Sinar Mas akan merestorasi Kawasan Hutan Lindung Pantai Timur OKI, Hutan Suaka Marga Padang Sugihan Banyuasin-OKi dan Kawasan Konservasi Bantayan Muba dan sebagian Taman Nasional Sembilang (termasuk Berbak di Jambi).

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit dan IDH The Sustainable Trade Initiative akan melakukan kegiatan Lumbung Pasokan Sawit Berkelanjutan di Kecamatan Lalan Muba dan sekitar TN Sembilang. Upaya mereka dimulai dengan Replanting Kelapa Sawit seluas 6.000 hektare. Termasuk mapping kebun kelapa sawit rakyat yang berada di kawasan hutan.

GIZ Bioclime masih dalam proses untuk beberapa kegiatan pengendalian karhutlah di Kawasan Merang Muba.

773.964 hektare

Luasan indikatif di Sumatera Selatan yang menjadi prioritas untuk direstorasi berdasar data BRG; yang berada pada Kawasan Tidak Berhutan: 682.324 hektare. Dengan uraian Kawasan Lindung dan Konservasi seluas 63.432 hektare dan Kawasan Budidaya: 618.892 hektare.

Sedangkan yang berada pada Kawasan Berhutan seluas: 91.640 hektare. Terdiri Kawasan Lindung dan Konservasi: 6.398 hektare dan Kawasan Budidaya: 85.251 hektare. “Totalnya 773.964 hektare,” kata Najib Asmani.

Kawasan yang direstorasi tersebut pada Kawasan Tidak Berhutan yang pernah terbakar minimal 1-3 kali dari tahun 2000 atau kurang dari 3 kali antara tahun 2000-2011. Satu kali antara 2012-2015. Sedangkan pada Kawasan Berhutan yang tidak pernah mengalami kebakaran antara Tahun 2012 – 2015. (and/tw)

Online Paper Updated at: 12.16.00
Get Free Updates:
*Please click on the confirmation link sent in your Spam folder of Email*

Be the first to reply!

Poskan Komentar

 
back to top